Friday, April 5, 2013

PENOLAKAN BENDERA BULAN BINTANG DI ACEH TENGAH


PENOLAKAN BENDERA BULAN BINTANG DI ACEH TENGAH 





Massa Gayo Bakar Bendera Bulan Bintang Di Takengon.

Berikut Ini 5 Tuntutan Ribuan Massa Gayo, Kamis 4 April 2013 Yg Dibacakan Oleh Panglima Peta Aceh, Ir H Tagore Abubakar :

1. Menolak Qanun Bendera dan Lambang Aceh serta Qanun Wali Nanggroe
2. Mengecam qanun yang diundangkan secara sepihak
3. Qanun sepihak menimbulkan gejolak sosial dan gesekan horizontal
4. Meminta Presiden RI segera memekarkan Provinsi ALA
5. Jika mengalami kebuntuan mempertahankan NKRI, Peta, Laskar Merah Putih, jajaran ALA, dan pihak yang mendukung, siap angkat senjata.

Takengon - Ribuan massa dari Dataran Tinggi Gayo, meliputi Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Kamis (4/4) kemarin menggelar konvoi di dua kabupaten bertetangga itu. Mereka menolak Qanun Wali Nanggroe serta Qanun Bendera dan Lambang Aceh, lalu membakar bendera yang baru disahkan DPR Aceh itu.

Massa asal Aceh Tengah awalnya berkumpul di depan Gedung Olah Seni (GOS), Takengon. Terdiri atas mahasiswa, relawan Pembela Tanah Air (Peta), dan Laskar Merah Putih.

Sejak pukul 09.00 WIB massa Aceh Tengah mengendarai mobil dan sepeda motor (sepmor) mengusung bendera Merah Putih sambil menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan yel-yel. Mereka bergerak mengelilingi kota dan menjemput rombongan dari Bener Meriah di Simpang Empat, Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan.

Panglima Peta Aceh, Ir H Tagore Abubakar dalam orasinya mengutuk keras pengibaran bendera Bintang Bulan sebagai bendera Aceh dan menolak Singa-Burak sebagai lambang Aceh. Ia juga membacakan surat terbuka kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono agar segera menyelesaikan masalah Aceh dengan melahirkan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA).

Ia didampingi sesepuh Peta, seperti Jubir Suyadi, Panglima Komando Peta M Sanen, Ketua Laskar Merah Putih Rizhaliady, sesepuh ALA M Syarif, dan mantan kombatan GAM, Ligadinsyah. Orasi itu diselingi dengan pembakaran bendera Aceh di depan massa.

“Peta sudah aktif lagi sejak 1 April 2013. Kita siap angkat senjata menumpas setiap bendera Aceh yang dikibarkan di enam kabupaten pendukung ALA. Kapan pun bendera itu berkibar, akan kita turunkan saat itu juga,” tegas Tagore disambut yel-yel massa.

“Dalam hal ini kita tidak membedakan suku yang ada di Gayo, baik Aceh pesisir, Jawa, Sumatera dan sebagainya. Jika sudah tinggal di Gayo, maka wajib mempertahankan NKRI. Qanun bendera tak perlu direvisi, tapi dihapus!” imbuhnya.

“Pihak DPRA hanya sibuk mengurusi Qanun Bendera. Seharusnya mereka lebih mementingkan kesejahteraan rakyat. Lihat saja masih banyak pengemis di Aceh. Artinya, DPRA tidak memihak rakyat. Fungsi kontrol DPRA juga minim,” katanya. Usai orasi, massa dari Bener Meriah dan Aceh Tengah bubar dengan tertib. Sekira pukul 14.30 WIB massa meninggalkan GOS